Text
Relasi ekonomi masyarakat dengan pesantren (studi kasus masyarakat sekitar Pondok Pesantren Al-Falah dengan Pondok Pesantren Al-Falah Desa Ploso Mojo Kediri)
Pesantren merupakan produk sejarah yang telah berdialog dengan zamannya masing- masing yang memiliki karakteristik berlainan baik menyangkut sosio-politik, sosio-kultural, sosio ekonomi maupun sosio religius. Antara pesantren dan masyarakat sekitar, khususnya masyarakat desa, telah terjalin interaksi yang harmonis, bahkan keterlibatan mereka cukup besar dalam mendirikan pesantren, sebaliknya kontribusi yang relatif besar acapkali dihadiahkan pesantren untuk pembangunan masyarakat desa. Sehingga peneliti beritikad untuk mengetahui lebih dalam apa saja keterlibatan mereka dapat menimbulkan relasi ekonomi.
Jenis Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data dengan menggunakan metode observasi dan wawancara secara mendalam. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif. Sedangkan pengecekan keabsahan data menggunakan metode triangulasi dan ketekunan pengamatan.
Dari penelitian dengan judul Relasi Ekonomi Masyarakat dengan Pesantren (Studi Kasus Masyarakat Sekitar Pondok Pesantren Al-Falah dengan Pondok Pesantren Al-Falah Desa Ploso Mojo Kediri), memperoleh hasil sebagai berikut. Pertama, Adanya relasi ekonomi diantara pondok pesantren dengan masyarakat desa ploso dengan ruang lingkup relasi ekonomi eksternal karena pengelola tidak semua dari pengurus dan pemilik dari pondok Al Falah. Selain itu juga tergolong dalam relasi ekonomi nonformal yang ditandai dengan adanya hubungan keduanya yang tidak terikat. Kedua, Adanya relasi ekonomi diantara keduanya menciptakan keberagaman tingkat kejahteraan masyarakat Desa Ploso dengan rata rata penduduk desa Ploso berada pada tingkat Keluarga Sejahtera III. Hal ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat masih belum maksimal. Namun jika mengacu pada konsep maqosid syariah, tingkat kebutuhan dhoruriyat, hajiyat dan tahsiniyat masyrakat Desa Ploso mulai dari agama, jiwa, keturunan, akal dan harta sudah terpenuhi walaupun beberapa hanya pada tingkat kebutuhan dhoruriyat. Dalam Islam kebutuhan dhoruriyat sudah terpenuhi maka sudah dikatakan sejahtera karena indokator kesejahteraan dalam Islam adalah tauhid, konsumsi, dan hilangnya rasa takut dan segala bentuk kegelisahan.
Tidak tersedia versi lain