Text
Resiliensi pada single mother setelah kematian pasangan hidup (di Dusun Gondang Desa Sekoto)
Resiliensi sebagai kemampuan manusia untuk menghadapi, mengatasi menjadi kuat ketika menghadapi dan hambatan. Resiliensi bukan merupakan suatu keajaiban, tidak hanya ditemukan pada sebagian kecil manus saja dan bukan merupakan sesuatu yang berasal dari sumber yang tidak jelas. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk menjadi resilien, dan setiap orang mampu untuk belajar bagaimana menghadapi rintangan dan hambatan dalam hidupnya sehingga nantinya menjadi resilien. Stigma yang dialami oleh ongle mother yang ditinggal mati pasanganya dapat berupa stigma internal maupun eksternal, sehingga peneliti tertarik untuk mengetahui apa saja yang membuat single mother yang ditinggal mati pasanganya itu bangkit dari permasalahan yang dihadapinya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran aspek dan faktor yang mempengaruhi resiliensi pada single mother setelah kensataan pasangan hidup di Dusun Gondang Desa Sekoto. Penelitian ini dilakukan kepada tiga orang single mother setelah kematian pasangan dengan kriteria sebagai berikut: a) yang usia maksimal 45 tahun, b) memiliki anak jenjang usia sekolah, c) jumlah anak minimal 2, d) ditinggal suami maksimal 3 tahunan, Metode dalamı penelitian ini menggunakan kualitatif fenomenologi. Data di peroleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi subyek penelitian. Observasi dalam penelitian ini menggunakan observasi dengan cara pengamatan yang dilakukan secara langsung oleh peneliti seperti mengetahui keadaan rumah subyek das ekspresi subyek ketika pada saat drwawancara, hal tersebut bertujuan untuk keberadaan subjek, situasi dalam upaya pengumpulan data penelitian
Hasil dari penelitian mi memunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi resiliensi single mother yang ditinggal mati oleh di Dusun Gondang Desa Sekuto ditunjukkan dengan para subyek yang dapat mensunculkan pola ketahanan yang beragam, hal ini dapat disimpulkan bahwa ketiga subyek, dapat dan bisa metangani kondisi yang mereka alami saat ini, dapat dilihat dari ketiga subyek penelitian dalam menyikapi suatu permasalahan ketika mengalami kesengsaraan atau kondisi yang kurang baik. Ketiga subyek memiliki bentuk resiliensi yang buk, dimana subyek memiliki daya lanting untuk bisa bungka dari kesengsaraan dan merespon secara positif ketika berhadapan dengan kesengsaraan atwo trauma yang menekan Hal tersebut terjadi karena faktor insermal maupun eksternal dalam kehidupan subyek.
Tidak tersedia versi lain