Text
Peran ijazah aurod syadziliyah sebagai media pembentuk akhlakul karimah santri di Madrasah Diniyah Ghizarul Hikan Dsn. Tegalrejo Kec. Kanigoro Kab. Blitar (2015-2017)
Tujuan tertinggi dalam kehidupan beragama Islam adalah mendidik manusia supaya memiliki jiwa dan akhlak mulia disamping memperoleh ilmu pengetahuan Karena pada sejatinya buah dari ilmu adalah amal yang baik berupa akhlakul karımah. Akhlakul karimah tersebut bisa dibentuk salah satunya melalui pembelajaran di madrasah diniyah. Kendati demikian Madrasah diniyah yang hanya memberikan dua jam pelajaran dalam setiap harinya dinilai tidak cukup, karena seorang guru tidak dapat memantau baik ibadah maupun akhlak santrinya ketika tidak berada di madrasah diniyah.
Oleh karena itu metode yang dinilai paling efektif dalam membentuk akhlakul karimah santri adalah dengan pembiasaan, keteladanan dan pemberian pengertian Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui peran pembiasaan ijazah nurod Syadziliyah sebagai media pembentuk akhlakul karimah santri di Madrasah Diniyah Ghizarul Hikam Dsn. Tegalrejo Kec. Kanigoro Kab. Blitar. Untuk mencapai tujuan diatas, peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari hasil wawancara, observasi lapangan dan dokumentasi Adapun teknik analisis datanya meliputi reduksi data, penyajian jian data dan peruarikan kesimpulan
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa: 1) Ijazah aurod Syadziliyah yang digunakan sebagai metode dalam memberi keteladanan dan pengertian dinilai berperan dalam membiasakan akhlakul karimah kepada santi di Madrasah Diniyah Ghizarul Hikam. 2) Adapun dampak dari peran ijazah aurod Syadziliyah sebagai media pembentuk akhlakul karimah tersebut adalah pertama, santri lebih mantap menjalankan ijazah karena diberikan oleh Imam khusust/orang kepercayaan mursyid Kedua, timbul kemantapan hati karena sudah terbiasa melaksanakan aurod Syadziliyah. Disinilah aurod Syadziliyah mampu membentuk akhlakul karimalı berupa terbiasanya santri melaksanakan duduk lama sekaligus dakir lama Selanjutnya menurut keterangan ustadzah telah dibaiat mursyid di Pondok PETA Tulungagung menyampaikan bahwa pada diri manusia memliki teman sejati (Bahasa Jawa among-cawong), orang bisa berlaku baik atau buruk tergantung teman sejati. Karena itulah aurod Syadziliyah bertujuan untuk menuntun teman sejari kepada kebaikan. Ketiga, dalam hal tata krama, santri lebih taat (sum'na wa athona) terhadap guru dan dapat menghormati orang yang lebih tua seperti menjabat tangan dengan mencium punggung tangan beserta telapak tangan orang yang lebih tua Keempat, dalam hal kedisiplinan, santri menjadi terbiasa mengamalkan wirid haqoed ja dan ayat kursi baik di madrasah maupun di rumah, melaksanakan shalat malam. menjalankan puasa tarikairu secara berkala dan disiplin dalam menata sandal
Tidak tersedia versi lain