Text
Problematika penilaian autentik guru Akidah Akhlak di MTs Negeri 2 Nganjuk
Dalam kurikulum 2013 proses pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik dan penilaian autentik. Penilaian autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013. Karena penilaian autentik ini dapat menggambarkan peningkatan prestasi peserta didik baik pada proses belajar maupun hasil belajar. Penilaian autentik ini menekankan pada apa yang seharusnya dinilai baik pada proses maupun hasil dengan berbagai instrumen penilaian yang disesuaikan dengan Standar Kriteria Lulusan, Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar. Dalam kurikulum 2013 mengharuskan guru untuk menilai peserta didik secara nyata dan menyeluruh. Penilaian ini meliputi aspek sikap (Afectif), (Cognitif), dan aspek keterampilan (Psicomotor).
Penelitian yang telah dilaksanakan di MTsN 2 Nganjuk, sesuai dengan acuan penilaian autentik yang meliputi penilaian sikap (spiritual dan sosial), penilaian pengetahuan, dan penilaian keterampilan. Penelitian ini berupaya mengungkapkan problematika, kendala guru, dan solusi-solusi dalam menerapkan penilaian autentik. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) problematika guru Akidah Akhlak dalam menerapkan penilaian autentik. (2) kendala guru Akidah Akhlak dalam menerapkan penilaian autentik, dan (3) solusi-solusi apa untuk mengatasi problematika/kendala guru Akidah Akhlak dalam menerapkan penilaian autentik.
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa: 1) Adanya problematika yang dihadapi guru Akidah Akhlak dalam menerapkan penilaian autentik, yaitu antara lain penilaian dilakukan dalam waktu yang sama dalam proses pembelajaran. 2) Adanya kendala-kendala yang dihadapi guru Akidah Akhlak, yaitu banyaknya aspek yang dinilai sehingga guru mengalami kesulitan dalam menerapkan penilaian autentik. 3) Terdapat solusi-solusi dalam mengurangi problematika dan kendala-kendala dalam penerapan penilaian autentik, yaitu: 1) Membuat penilaian diri, penilaian antar teman, dan observasi. 2) Ketika materi selesai disampaikan, maka sebaiknya langsung praktek (seperti materi husnudzon, tasamuh, dan tawadhu). 3) Ruang lingkup penilaian dapat dikurangi. 4) Guru harus melakukan upaya yang lebih untuk menyeimbangkan keadaan siswa yang memiliki nilai kurang.
Tidak tersedia versi lain